Benderanya Kurang Satu
November 14, 2008
TPQ Uswatun Hasanah di Kramas bulan Juli 2008 kemarin mengadakan outbond untuk para santrinya dalam rangka mengisi liburan semester. Sebenernya ade-ade udah mengusulkan sejak jauh-jauh hari, tapi karena mba-mba n mas-mas pengajarnya ngurus yang lain, jadi baru sempat beberapa hari sebelum liburan berakhir, alhamdulillaah, bisa terlaksana juga sebelum liburan mereka habis.
Meski dadakan santri Uswatun tetep semangat. Tema outbond kali ini adalah sang Petualang…Tiap santri adalah mujahid atau mujahidah Kramas yang sedang melakukan perjalanan mencari kebenaran tentang Islam. Ada 5 pos yang tersedia, tiap pos adalah pos rukun Islam. Pos pertama tentang syahadat dan seterusnya hingga pos 5 tentang haji. Berbekal ransel berisi alat tulis, makanan dan minuman, serta sapaan khas mereka, “Mujahid Mujahidah Kramas….Allahu Akbar!!”, berpetualanglah mujahid dan mujahidah cilik ini…
Kami outbond di tegalan. Bukan di daerah Tegal, tegalan adalah sebutan di daerah Jawa Tengah, untuk ladang bercampur hutan. Kramas adalah salah satu desa/kelurahan di kecamatan Tembalang, Kotamadya Semarang, letaknya di sbelah Selatan kelurahan Bulusan, tempat tinggalku. Tegalan itu terletak di daerah sebelah timur Kramas, beberapa meter setelah komplek sawah penduduk yang tengah menghijau yang membuat jalan setapak menuju tegalan terasa sangat sejuk. Tegalan itu berisi pohon-pohon besar sehingga terlihat seperti hutan, serta ada ladang tempat penduduk menanam berbagai empon-empon (bumbu masak dan tanaman obat) seperti temulawak, kunyit, dsb.
Semua pos tersebar di sana. Setelah pos terakhir nanti, akan ada penutupan dengan mengambil ibroh petualangan secara keseluruhan, dan kembali ke TPQ melewati pematang sawah, serta mampir ke sendang (sebutan untuk mata air yang dijadikan tempat warga melakukan aktifitas mencuci dan mandi) untuk bersih-bersih, barangkali ada yang terjeblos ke sawah…
Di tiap pos, mereka punya tugas yang harus diselesaikan, jika berhasil, maka mereka akan mendapat 5 bendera yang dikumpulkan dari semua pos, tiap pos diberi satu bendera, dengan syarat tugas berhasil dilaksanakan dengan baik…Kelompok yang berhasil mengumpulkan 5 bendera,, itulah kelompok yang jadi pemenang..dan berhasil dalam petualangannya!!
Selain 5 pos tadi, ada 1 pos bayangan, yang terletak antara pos 4 dan pos5, jarak antara keduanya agak jauh dan melewati semak belukar yang tidak ada jalan setapaknya…kami khawatir ade2 nanti nyasar (soalnya waktu tracking sehari sebelumnya, aku dan Iis serta 2 santri putri juga nyasar,,karena tidak ditemani anak2 putra yang biasa bermain di sana..syukurlah kami bertemu bebrapa penduduk yang tengah memanen temulawaknya hingga kami tidak perlu bermalam di sana karena tidak bisa keluar..he..). di pos bayangan itu ade2 beristirahat, makan dan minum perbekalan yang di bawa.
Sambil makan, Iqbal, mas’ul salah satu kelompok melapor sambil cemberut dan nada menyesal, “Benderane kurang siji ik mba, piye jal..ra iso menang ki..” (“Benderanya kurang satu nih mba, gimana donk, nggak bisa menang ini”, begitu kira-kira translate-annya), rupanya di salah satu pos kelompoknya tidak berhasil menyelesaikan tugas mereka, akhirnya bendera yang sampai pos 4 harusnya terkumpul 4 bendera, mereka hanya mendapatkan 3 bendera saja…mereka pun kecewa karena merasa gagal dan tidak memenuhi kriteria sebagai kelompok yang berhasil…meski begitu, mereka masih bersemangat untuk mendapatkan bendera terakhir, bendera haji, setelah sebelumnya disemangati bahwa mungkin kelompok lain juga ada yang tidak dapat salah satu bendera, jadi harus tetap berusaha memperbanyak bendera yang didapat, yang paling banyak itulah yang menang, dan akan mendapat hadiah serta dinobatkan sebagai kelompok mujahid/mujahidah yang berhasil dalam petualangan kali ini…
Melihat anak2 dengan semangat melahap bekal yang mereka bawa yang juga menambah semangat mereka mengejar satu bendera lagi…pikirku pun berkelana…apakah aku, dalam kenyataannya adalah orang yang mampu menjalani petualangan hidup yang penuh liku ini sebagai mujahidah yang selalu istiqomah dalam mencari kebenaran sejati? apakah aku sebagai muslimah, sudah benar2 menerapkan keislamanku dengan baik, dengan sempurna? Apakah rukun Islam, atau rukun Iman telah benar2 ku penuhi sebagai orang yang mengaku dirinya sebagai seorang umatnya Nabi Muhammad sang pembawa risalah? Apakah aku dapat kembali pada Allaah nanti dengan membawa bendera lengkap sebagai bukti bahwa aku telah menunaikan rukun Islam dengan baik? Malu…de, mungkin mba juga benderanya masih kurang…
Aku pun tertunduk sehingga nampak olehku di tanah, beberapa undur-undur yang tengah berusaha menggali lubang-lubang dengan jalannya yang mundur…setelah masuk ke dalam tanah, kugali dan kuangkat salah satunya ke permukaan,, dan ia pun menggali lagi, kuulangi, dan ia tidak berhenti menggali…
Mungkin kita telah bersyahadat dan mengucapkannya berulang-ulang, minimal 9 kali sehari untuk shalat wajib 5 waktu, belum lagi di shalat rawatib atau shalat sunnah yang lain, atau ketika berdo’a setelah wudhu, ketika hendak shalat berjamaah membaca iqomah, banyak…namun apakah kita telah mampu memaknai syahadat dengan penuh pemahaman, menyadari konsekuensi darinya serta menjaga setiap sikap, pikir, rasa dan tingkah laku agar tidak bertentangan dengannya sehingga merusak atau bahkan membatalkannya!!
Astaghfirullaah…
Mungkin kita juga telah medirikan shalat 5 waktu tanpa bolong2 lagi, namun apakah kita termasuk orang2 yang beruntung, yang tidak lalai dan memelihara serta khusyuk shalatnya sehingga pantas memenuhi salah satu kriteria sebagai pewaris syurga seperti yang Allaah deskripsikan dalam surat cintaNya bernama Al Mu’minuun..
Dan apakah kita telah berpuasa dengan baik, menjaga diri dari hal yang dapat membatalkan atau skedar merusak hingga hilang pahalanya, menunaikan zakat dengan penuh keikhlasan dan meng’azzamkan diri untuk melaksanakan haji atau ibadah yang setara dengannya..
Kepalaku mendadak pusing!! De, bendera mba kurang banyak sepertinya…
Setiap kita menginginkan keislaman yang sempurna, yang mampu memenuhi semua rukunnya, seperti ade2 TPQ yang begitu menginginkan mendapat 5 bendera, maka kita pun ingin mendapat bendera rukun Islam itu di hadapanNya…namun keinginan saja tidaklah cukup, semangat berusaha untuk merealisasikannya adalah modal yang harus senantiasa ada dalam diri ini…untuk selalu berusaha dan terus berusaha untuk menjadi umatNya yang terbaik…seperti undur-undur yang tak berhenti menggali…
Jangan sampai kita menyesal di akhir perjalanan ini karena tidak berhasil mewujudkan diri sebagai seorang muslim yang mampu memenuhi rukun Islam dengan baik,, semoga bendera yang dikumpulkan tidak kurang, walau hanya satu…
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang yang yang akan mewarisi, (yakni) mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”
(Al Mu’minuun:1-11 )
‘Abdan Syakuro
Oktober 31, 2008
Mmm…judulnya bagus ya….
Sebenernya ini adalah frase kata yang menjadi kandidat salah satu (he..daftarnya lumayan banyak) nama anakku nanti,, (kapan ya?), emang sih kalo buat nama agak aneh, panggilannya paling2 ‘Abdan (ga ikut2an Afghan lho ya..). kalo dipanggil Syakur kaya orang India, he..kalo Syakuro juga aneh, apalagi Kuro..ha..ha..emangnya Kuro-kuro ninja!!
Yah..masih lama..bukan ini yang mau mya bahas,,yang pasti frase kata yang terdapat dalam Al Qur’an di QS Al Israa’ ayat ke-3 ini menjadi gelar yang diberi Allah untuk Nabi Nuh, hamba Allah yang banyak bersyukur. Menjadi hamba yang banyak bersyukur memang tidak mudah, karena kita juga harus bersyukur bahwa kita bisa bersyukur, karena rasa syukur perlu disyukuri, dan untuk mensyukuri, perlu rasa syukur pula..karenanya pula Rasulullah selalu melaksanakan shalat malam hingga kakinya bengkak2 dan alasan mengapa ia tetap menjalankannya padahal ia sudah mendapat jaminan syurga adalah, karena ia ingin menjadi hamba Allah yang banyak bersyukur, ‘abdan syakuro…
Baiklah, ini adalah bagian kisah yang terjadi di Happy Class baru-baru ini.
Hari itu anak2 belajar tentang salah satu asmaul husna, Ar Razaq, Maha Pemberi Rizki.
Pelajaran diawali dengan kisah Nabi Yunus yang terdampar di sebuah pulau setelah dirinya dimuntahkan oleh seekor Paus. Nabi Yunus pun kelaparan, karena pulau itu adalah pulau yang tandus, namun kemudian Allah sang Maha Pemberi rizki menumbuhkan untuknya tanaman yang bisa ia gunakan untuk makan…hal ini dikisahkan Allah dalam QS As Shaaffaat ayat 139-146
Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.
Mutia, salah satu warga Happy Class seketika bertanya, “Kok kita nggak, Bu?”
“Nggak apa?” tanya Bu Aeni bingung..
“Nggak dapet rizki kaya nabi Yunus…”, protes Mutia, polos.
Astaghfirullah, nak…ko’ kamu jadi kufur nikmat gitu, ya, batinku, refleks.
Jadi ingat pertanyaan Allah lewat al Qur’an,
fabi ayyi ‘aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan..
maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?
“Kita juga diberi nikmat, tapi caranya beda..”, dan penjelasan pun mengalir dari mulut bu Aeni…
Mutia hanyalah anak kecil, apa yang dia alami, itulah yang dia ketahui, setaunya, dia tidak pernah meminta kemudian langsung diberi oleh Allah. Namun mungkin tidak sedikit orang yang berpikir seperti Mutia, bahkan orang dewasa sekalipun. Tidak sedikit dari kita yang seringkali lupa, bahwa Allah adalah Sang Pemberi rizki. Rizki yang kita dapatkan memang seringkali kita dapatkan dengan lebih dulu kita usahakan, sehingga di sinilah ujiannya. Ujian bahwa kita untuk tetap mengingat Allah dari setiap rizki yang kita dapatkan, tidak seperti zaman nabi-nabi dahulu yang memohon langsung dikabulkan, seperti Nabi Isa yang meminta makanan kemudian turunlah hidangan dari langit…
Maka seringkali manusia kufur nikmat, bahkan sombong. Merasa bahwa apa yang dimilikinya adalah semata-mata hasil usaha dan kerja kerasnya tanpa adanya keputusan dari Allah Sang Maha pemberi rizki, Ar Razaq, untuk menurunkan rizki untuknya.
Hari itu anak2 belajar bahwa sumber segala rizki yang mereka peroleh adalah Allah, Ar Razaq..bahwa semua yang kita lakukan hanyalah usaha menjemput rizki yang Allah berikan, bahwa ketika diberi, maka Allahlah yang telah memberikan rizkinya melalui orang lain sebagai medianya…
Pelajaran pun dilanjutkan dengan menulis cerita tentang pengalamannya mendapatkan rizki dari Allah, inilah sebagian kisah mereka
“Di depan rumahku aku punya pohon mangga, saat itu tidak berbuah sama sekali. Padahal aku ingin mangga. Karena sekarang sudah tumbuh mangganya aku senang mempunyai pohon mangga. Padahal aku cuma menyiram. Aku sangat…senang punya pohon mangga. Itu pertanda bahwa Allah pemberi rizki, Allah telah memberikan rizki berupa mangga untukku..”
Ahmad Faqih Tamassax Bitauhiddillah (Faqih)
Iya ya nak, di blakang rumah kontrakanku juga ada pohon mangga dan rambutan yang setia berbuah ketika musimnya, bahkan tanpa aku menyiraminya..air hujan yang Allah turunkan memadai untuk ia mampu berbuah…
fabi ayyi ‘aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan..
“Rumahku jual tanaman hias, tanamannya ada yang tidak berbunga. Tanaman yang tidak berbunga ta’ siram,habis disiram aku menunggu aku soalnya mau lihat bunganya. Keesokan harinya aku melihat bunganya ternyata bunganya berbunga. Bunganya warna putih. Itu artinya Allah Maha Pemberi rizki”
Ibnu Hanif al Maqda (Hanif)
“Ya Allah, aku berterima kasih padaMu, kau memberi orangtua yang sayang sama aku. Aku telah dididik baik aku kalau sakit aku di bawa ke dokter, aku bangga sama ayah dan ibuku. Aku ingin dibanggain sama kedua orangtuaku, kalau sudah besar aku melanjutkan cita-cita ayah dan ibu.”
Hanun Aisyah (Hanun)
Ya Allah, anak-anak ini adalah hamba-hambaMu yang sedang berjuang untuk tumbuh menjadi khoiru ummah, yang kelak akan berkontribusi dalam upaya menegakkan dienMu. Jadikanlah mereka semua sebagai ‘abdan syakuro..aamiin…
bara dan amalia
Oktober 24, 2008
Ini cerita ketika Happy Class masih di kelas 1.
Rabu, anak-anak berseragam. Ya, dalam 5 hari sekolah di sekolah alam ini, mereka hanya memakai seragam 2 x, senin memakai merah putih, dan rabu, seragam olahraga. Sisanya memakai baju bebas. Bukan untuk menunjukkan siapa yang mampu siapa yang tidak, justru ketika sekolah mereka disiapkan untuk pakai pakaian “seadanya”, agar jika bermain di berbagai fasilitas sekolah seperti kebun, kolam dan sebagainya tidak perlu khawatir menggunakan baju yang bagus…(he..he..jadi teringat Bara yang selalu memakai baju keren dan sering pula pulang dalam keadaan berbalut tanah karena bermain di kebun atau basah kuyup karena menceburkan diri ke kolam ikan)
Sekolah diawali dengan belajar materi berkebun, setelah itu jadwal olahraga. Amalia, murid baru asal Banten yang ku shadow, merupakan anak cerdas dan bersemangat. Dengan IQ 107 ia seharusnya bisa saja menjadi juara kelas, anak terpintar di kelasnya, namun ia memiliki beberapa keterbatasan. Amalia adalah anak dengan cerebral palsy atau DMO (Disfungsi Minimal Otak), sehingga ia mengalami dispraksia, yakni gangguan perkembangan di mana anak memiliki gerakan terbatas, atau tidak mampu melakukan gerakan-gerakan seperti anak sebayanya. Bukan karena gizi kurang sewktu ia dalam kandungan, namun saat proses kelahiran. Kesulitannya untuk keluar dari rahim ibunya memaksa dokter menggunakan alat vacum yang kemudian melukai sebagian dari otaknya. Kondisi dirinya adalah takdir Allah yang sungguh, sangat bermanfaat bagi kehidupan ini….bagiku, bagi keluarganya…bagi teman-temannya, bagi guru-gurunya, bagi seluruh warga Happy Class dan Sekolah Alam Ar Ridho…bagi seluruh manusia di muka bumi ini, semoga…amin. Ini adalah bagian kisah pelajaran yang Amalia berikan………
Di tiap akhir hariku, aku mengecek sampai mana perubahan skripsiku….judul berbau psikologi Islami ini memang spekulatif, ya kalau hasilnya sesuai dengan asumsiku, jika tidak…oh, sangat membahayakan! Tapi, kata seorang ummi yang juga guruku, untuk sebuah kebenaran..jangan pernah mundur, harus terus maju!! Lalu kulihat salah satu hiasan dinding di kamarku, he…bukan hiasan sih, karena nggak indah, cuma tempel-tempelan penyemangat, di sana tertulis kalam Allah yang begitu menyemangati…
Fa idza ‘azzamta, fatawakkal ‘alALLAAH, innALLAAHa yuhibbu mutawakkiliin…
Ya Allah…bantulah hambaMu ini, semoga aku termasuk dalam orang-orang yang senantiasa bertawakkal padaMu…
Jadwal olahraga kali ini adalah outbond, maka segera setelah pemanasan, anak-anak berhamburan ke arena outbond. Yang seru, tidak seperti minggu-minggu outbond sebelumnya, kali ini Happy Class kebagian pos flying fox, wow..asyik!! anak-anak pun berebut giliran, namun tetap sesuai aturan. Mereka bergambreng untuk mendapatkan urutan giliran siapa yang lebih dulu. Urutan antrian dibuat 2, putra dan putri, karena webbingnya pun ada 2, jadi memudahkan. Amalia dan Bara mendapat urutan untuk naik terakhir. Teman-teman menyangsikan mereka berdua naik, Amalia memiliki fisik terbatas, sedang Bara, memiliki nyali yang terbatas..he..
Waktu giliran Bara pun tiba, ia memang lebih besar dibanding teman2 lainnya, jadi badannya lebih berat. Setelah pengaman siap, ia mulai memanjat tangga di pohon untuk dapat mencapai atas tempat meluncur. Dua anak tangga terlewati, teman2 yang sudah selesai pun menyemangati…
“Sudah bu, aku sudah nggak kuat..” di anak tangga ke tiga Bara menyerah, tidak mau lagi naik ke atas…rupanya nyalinya tak sebesar keinginannya tuk meluncur bak flying fox..dan kini ia terlihat seperti kuskus raksasa yang menempel di pohon. Ngebingungin, dia nggak mau naik tapi nggak mau turun juga..hhh….
“aku takut Bu, aku nggak mau naik, aku nggak bisa naik, tapi aku juga bisa turun, gimana ini?” Bara mulai merengek dengan tetap memeluk pohon dengan erat.
Disemangati kaya apa tetep aja ni anak nggak mau turun2, nangkring aja di pohon….
Karena cukup lama, akhirnya Pak Arifin, guru outbond membantu Bara turun dari pohon…mm…gagal…gimana Amalia ya?
Aku jd pesimis, mungkin Amel juga ga bisa, pikirku…aku sudah menanyakannya berulang-ulang, “Amel jadi mau coba?” ia tidak menjawab, hanya tersenyum dengan anggukan yang mantap. Ngotot juga anak ini, segitu kuat ‘azzamnya untuk ikut naik dan merasakan flying fox…ah, jadi teringat semboyanku sendiri,
Fa idza ‘azzamta, fatawakkal ‘alALLAAH, innALLAAHa yuhibbu mutawakkiliin…
Baiklah, Mel, ibu akan bantu, ga ada salahnya, ayo kita coba….bismillaah
Pengaman siap dipasang, pak Arifin siap bantu dengan memegangi Amel dari belakang untuk bisa memenjat anak tangga di pohon satu..demi satu…tak terasa Amel pun sampai di atas…meluncurlah nak, rasakan keberhasilanmu mengalahkan rasa takut dan pesimis..!!
Dan Amalia Maurizka pun meluncur….Allaahuakbar…
Aku menangkapnya di tempat pendaratan, tawanya tak berhenti, senang sekali..”Aku mau lagi, Bu, mau lagi..” sambil terus tersenyum setengah tertawa, ia minta untuk mengulangi peluncurannya. “Lain kali ya, sayang…sekarang istirahat dulu..” lain kali Mel, kelak kau akan bisa mencoba semuanya…
Melalui peristiwa itu, pelajaran pun didapatkan…bila Amalia dan Bara dijejerkan dan orang2 diminta meng-estimasi siapa yang bs berhasil sampai meluncur, maka mungkin sepintas orang2 akan menjawab, Bara. Tapi nyatanya, kegigihan Amalia, azzamnya, begitu kuat, mengalahkan kondisi fisiknya yang kurang memungkinkan. Sebaliknya, ketakutan Bara, mengalahkan kondisi fisiknya yang mumpuni. Maka kekuatan itu berada dalam sebuah ‘azzam..
Fa idza ‘azzamta, fatawakkal ‘alALLAAH, innALLAAHa yuhibbu mutawakkiliin…
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
[QS Ali Imron : 159]
Teruntuk anakku di sekolah, Amalia Maurizka,
Ibu pun akan bertekad, selama ibu bisa, ibu akan bantu (dengan bantuan Allah juga tentunya) agar kau bisa mencoba semuanya, yang orang mungkin akan berpikir, kau tidak bisa, karena kekuatan itu…sungguh besar…ibu bisa merasakannya!!
Tetap semangat belajar ya nak…
Kami hanya minta sampah……!!!
Oktober 19, 2008
Beberapa waktu lalu ketua KAMMI Daerah Semarang sms, katanya badan lingkungan hidup prov jateng mo kerja sama ma kita untuk program peduli lingkungan. Ngomongin lingkungan aku langsung teringat sama sampah, ngomong sampah, aku pun jadi inget sama kota di mana aku menghabiskan waktu 18 tahun+, Bekasi, karena di sana gudangnya sampah. Baca di Tempo (edisi barapa ya, lupa), walikota baru kita ini berniat untuk menambah volume sampah di TPA Bantar Gebang sana, karena aktivitas bakteri dari tumpukan sampah bisa menambah penghasilan daerah….
Saat ini banyak orang yang tidak suka dekat-dekat sampah, sebisa mungkin mereka menyingkirkan sampah dari pandangan mereka. Prof. Dharto, dosen teknik lingkungan UNDIP bilang (saat ada kuliah umum psikologi lingkungan di kampus psikologi), NIMBY syndhrome, singkatan dari Not In My Back Yard Syndhrome.
Tapi lain ceritanya dengan warga di sekitar RT tempat orangtuaku tinggal, mereka mengumpulkan sampah, meski terbatas pada botol ataupun kaleng bekas minuman. Apa yang melatarbelakanginya? Ibu bilang, mereka ini latah, latah dengan gerakannya karang taruna. Ya, lama aku nggak denger kabar tentang karang taruna di RT mya karena 5 tahun terakhir, aku menghabiskan waktu di Semarang. Karang taruna mulai bangkit dan mandiri, mereka berusaha memenuhi kebutuhan keuangan dengan berpenghasilan sendiri, yakni melalui pengumpulan botol dan kaleng bekas minuman. Karenanya, setiap kita (orang-orang di rumah) minum-minuman berkemasan botol atau kaleng, ibu selalu cerewet bilang “jangan dibuang, ini berharga lho, buat karang taruna”. Dalam hati, salut juga sama ibu yang masih care sama karang taruna, katanya “kalo kita nggak bisa kasih apa-apa, ya paling nggak sampah-sampah ini kita kumpulin, daripada dibuang..”.
Itu beberapa waktu lalu ketika aku pulang ke bekasi, tapi setelah beberapa bulan pulang lagi, ibu keliatan nggak begitu bersemangat dalam mengumpulkan botol dan kaleng bekas, padahal mya udah siap-siap nggak dibuang. Saat tanya kenapa, ibu bilang “ya, kalo yang ngumpulin cuma ibu doang, nanti lama ngumpulnya, sekarang itu, orang-orang di sini kaya’ diajarin sama karang taruna, dulu mereka nggak peduli sama sampah. Tapi sekarang, mereka yang lebih rajin ngumpulin, tapi hasil penjualannya, buat mereka sendiri, kasian karang taruna, jadi nggak punya pendapatan lagi”
Sebagai mantan penggerak karang taruna, mya juga sedih ngedengernya, bagaimana bisa warga segitu egoisnya, bahkan sampah pun tidak mereka berikan? Hanya sampah!!
Memang perekonomian keluarga di sekitar rumahku terdiri dari berbagai golongan, beberapa ada yang di bawah. Untuk yang perekonomiannya masih rendah, aku bisa memaklumi, mungkin untuk tambah-tambah biaya karena dari pendapatan mereka selalu saja kekurangan. Tapi bagi yang cukup mapan, aku nggak habis pikir….
Kalau yang tinggal sisa saja kita sayang untuk menyumbangkannya, apalagi sesuatu yang kita dapatkan dengan susah payah…
Maka kita harus belajar untuk bersedekah,
Karena orang2 yang termasuk dalam muttaqin tidak pernah merasa berat untuk berinfaq dalam kondisi apapun…
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
[QS Ali Imron :134]
Maka kita harus belajar untuk bersedekah,
Karena orang yang bersedekah tak kan pernah merugi, Allah akan melipatgandakan apa yang ia sedekahkan, berlipat-lipat…
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui
[QS Al Baqarah : 261]
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.
[QS Al Baqarah : 265]
Maka kita harus belajar untuk bersedekah,
Karena menyedekahkan sebagian yang kita miliki bukanlah perkara mudah, ada musuh yang nyata yang selalu datang merayu, membisikkan kekhawatiran….
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.
[Al Baqarah : 168]
Maka kita harus belajar untuk bersedekah,
Karena dunia ini tak kan bangkit dengan orang-orang dengan yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Bangsa ini tidak akan sanggup menengadahkan wajahnya jika masyarakatnya pun tak mau bekerjasama untuk saling menopangnya.
Sebelum kepekaan sosial menipis, dan egoisme kian menebal, sebelum orang-orang yang mengalami kesulitan semakin banyak, dihadapkan pada semakin banyaknya mereka yang tidak peduli, sebelum kekikiran melanda negeri dan menghapus semua rasa kasih terhadap sesama….Mari belajar bersedekah…
Mari belajar bersedekah,
Karena kikir itu tabiatnya manusia, sehingga tidak mudah untuk melepaskannya…
………manusia itu menurut tabiatnya kikir….
[An Nisaa: 128]
Mari belajar bersedekah,
Jangan sampai pelit menjadi sifat kita, sifat yang hanya membawa kahancuran belaka…
Jauhilah sifat pelit karena sesungguhnya sifat itu yang membinasakan umat-umat sebelummu. Sifat itu yang menjadikan mereka saling menumpahkan darah dan menodai kehormatan.
[HR Abu Dawud]
Mari belajar bersedekah,
Jangan sampai pelit menjadi bagian dari kepribadian kita, hingga surga pun enggan mendekat, lantaran ridho Allah tak kunjung menghampiri…
Tidaklah masuk ke surga orang yang pelit, penipu, pengkhianat dan berperangai buruk
[HR Ahmad dan Tirmidzi]
Mari belajar bersedekah,
Sebelum hari esok tak dapat kita jumpai, sedang diri ini tak kuasa menyandang gelar seorang mukmin
Dua perkara yang tidak mungkin dimiliki oleh orang mukmin : pelit dan jelek perangai [HR Tirmidzi]
Allahumma inni a’udzubika minal bukhli………..
Jodoh itu memang rahasia Allaah
Oktober 19, 2008
mm…akhirnya berani juga nulis2 yang kaya beginian….
Sebenernya males juga sih bahas kaya ginian, karena sesuai dengan judul di atas…
tinggal tunggu saja ketetapan Allah itu datang..
Tapi akhir-akhir ini aku mendapat banyak pelajaran berharga dari banyak proses pernikahan orang lain, baik teman-teman, sahabat maupun junior (he..he..udah dilangkahin banyak junior niy..),
So… ga ada salahnya berbagi, barangkali bisa menginspirasi..
Kebetulan siang itu, ditengah aku sibuk menggerakkan jari-jariku untuk mengetik skripsi, kusempatkan untuk menukar SIM card Puput adikku yang kebetulan lagi main ke kosku dengan SIMcardku, entahlah..sepertinya ada berita penting…, maklum Hp gsm aku belum beli lagi, setelah kutukar hpku langsung berbunyi…
mm..dari Mas’ul, nanya kapan bisa syuro…
Untuk kedua kalinya, hp itu berbunyi lagi, ada sms, ternyata permohonan do’a restu sekaligus undangan pernikahan dari… mba Beauty dan Pak Syahid.
Subhanallah!! 2 orang ini bukanlah orang yang asing bagiku, keduanya adalah dedengkot Fukamaja (Forum Ukhuwah Mahasiswa Muslim Jabodetabek).
Ya, aku jadi mengingat-ingat kembali, betapa semangatnya kakak2 dulu menghimpun kami, para mahasiswa UNDIP yang berasal dari Jabodetabek, yang rumahnya jauh2 dari Semarang, dalam sebuah keluarga, Fukamaja. Untuk saling bertemu, bersilaturahim, berbagi cerita, pengalaman, dan jalan2 di berbagai tempat wisata di Semarang. Dari acara rujak party, lomba masak, futsal, buka bersama, mudik bareng, sampe halal bihalal di Jakarta….ada aja kegiatannya..dan nggak pernah kosong dari yang namanya “nasihat”, bahasa kerennya taujih..
Dari Fukamaja juga aku semakin terkuatkan…dalam ikatan ukhuwah ini…
Pak Syahid adalah salah satu tetuanya, demikian juga mba Beauty, mba Melinda, Pak Guruh, Pak Catur, Mba Aulia, dkk….
Mba Beauty mahasiswa kedokteran yang kampusnya di deket Karyadi, angkatan 2000, sedangkan Pak Syahid juga angkatan 2000, tapi anak Teknik Lingkungan yang kampusnya di Tembalang… Pak Syahid sepertinya lulus lebih dulu ketika mba Beauty masih koas di RS Karyadi, akhirnya beliau kembali ke kota asalnya, Jakarta.
Pertemuan terakhirku bersama teman2 Fukamaja adalah ketika halal bihalal Fukamaja di Jakarta, di daerah Rawa Mangun, Jl Bawal sepertinya, di rumah keluarga salah satu anak Fukamaja yang kuliah di FK juga. Setelah itu, kita ke Depok, ke rumah akh Firman Tetuko, takziyah karena ibunya baru saja meninggal dunia. Di sana ada juga Pak Syahid dan beberapa anak Fukamaja yang sudah lulus dan kembali ke Jakarta. Di akhir pertemuan itu Pak Syahid sempat berucap, kasih2 kabar ya, biasanya kalo udah kabar kematian, ya..kabar walimah..he..ternyata ga lama setelah itu akh Firman pun menikah…
Sayangnya waktu itu aku naik mobil yang beda sama mba Mel, mba Beauty dan mba Uli (panggilan mba Aulia), ternyata….itu masa2 terakhir mereka semua melajang..he..he.. bahkan setelah acara itu, mba Uli ga balik lagi ke Semarang, menikah dengan ikhwan Depok, alhamdulillah waktu tu bisa datang ke walimahannya…Mba mel pun akhirnya menikah dan sayang, aku nggak bisa datang….kini berita itu datang dari mba Beauty, yang sempat aku khawatirkan keadaannya, karena di pertemuan terakhirku dengannya itu, aku juga baru tau bahwa mba Beauty akan segera ke Halmahera untuk PTT….jauh sekali…
Belum lama ini aku juga dapet kabar pernikahan dari seniorku di FK juga, teh Tina dari Majalengka, yang ini PTT nya di Ambon, dan akhirnya menikah sama dokter gigi di Ambon…wah..emang kalo udah jodoh,,ada aja cara Allah mempertemukan mereka….
Gitu juga dengan mba Beauty dan Pak Syahid..aku pun masih amaze sama cara Allah mempertemukan mereka..setelah sekian lama di Semarang dan tidak ada kabar apa2, akhirnya berita itu datang, aku pun sempat ragu, jangan2 Syahid yang dimaksud bukan Syahid yang kukenal, karena mba Beauty kan di Halmahera, sedang Pak Syahid di Jakarta…kemudian aku telpon temanku, Hesti, anak sipil, ternyata pak syahid juga sedang di Halmahera, karena dapat kerjanya di sana…wah..berarti kemungkinan itu bener, pak Syahid yang kukenal…aku semakin senang dan mengkroscek kabar ke seniorku yang di Jakarta, mba Rya
“Mba, ud dpt kbr? Mba Beauty mo nikah..ma Pak Syahid! Mereka btemu di Halmahera..duwh..emang kalo jodoh ga kemana ya, aku seneng banget dengernya!”
Smsku pun berbalas,
“Iya, mi. Aq dah tau. Subhanallah ya,,jodoh memang rahasia Allaah. Kpn nyusul mi?:)”
Huh, mba Rya, yang udah lulus siapa, yang lebih tua siapa, malah tanya kapan nyusul, mba dulu aja kalee…uups..tapi jodoh kan rahasia Allah ya…penuh takjub kusms lagi mba Rya yang tengah mempersiapkan wisudanya november ini, kangen juga aku ngobrol sama beliau, sebentar lagi mba Rya juga akan mutasi ke Jakarta…aku kapan mutasinya ya..:)
“ Mba, aq masih amaze bgt sama cara Allah mempertemukan mba Beauty dan pak Syahid, ud lama kenal di Smg ga ad tanda2..trus mba Beauty dpt PTT di Halmahera, n pak Syahid jg dpt kja di sana..”
Mba Rya pun membalas lagi,
“nah itu dia mi, makanya kubilang kan, kalo jodoh emang rahasia Allah. Allah punya skenario buat qta untuk menemukan jodoh kita..masalah kapan dan dengan siapa qt menikah, itu misteri mi…”
Di bulan Syawal yang penuh berkah ini, tanggal 19 nanti..mereka kan menikah, insya Allaah…
mba Beauty dan pak Syahid memang nggak muda lagi, seusia kakakku yang kini telah beranak 2, selama ini berkonsentrasi untuk berkontribusi bagi umat…tetap sabar dan istiqomah meski berada di tempat yang teramat jauh di bagian Timur Indonesia sana…dan kini menikah demi menyempurnakan separuh din serta memperkuat bangunan dakwah..
Ya..inilah ketetapan Allah…sebuah misteri yang…indah pada waktunya,
“iya ya mba…yawda, aq mo berdo’a, do’ain juga ya mba, moga skenario kita bertemu jodoh kita nanti juga indah..he..he..” (ngarep)
Ya, menikah kapan, dengan siapa, adalah sebuah misteri..nggak perlu ngotot, nggak perlu gusar, toh kapan waktu itu tiba, dan siapa yang Allah pilihkan untuk kita nanti..adalah yang terbaik menurutNya….
“Ataa amrullaahi, falaa tasta’jiluuh..”
Ketetapan Allah pasti datang, maka janganlah kamu meminta agar dipercepat datangnya…
[QS An Nahl : 1]
Teruntuk Mba Beauty n Pak Syahid
Barakallahulakum, wabaraka’alaikum, wajama’a bainakuma fii khoir..
Met jadi keluarga samarata (sakinah, mawadah, rahmah, wa tarbiyah)..
Met berjuang di Halmahera sana, kalo balik ke Jakarta, adain halal bihalal Fukamaja di rumah kalian ya, afwan jiddan nggak bisa datang ke walimahnya…
Do’akan adikmu ini agar segera menyusul ^_^!!